“Dan secara aplikasi juga sangat mudah dilaksanakan sehingga tidak ada alasan bagi petani, khususnya untuk petani sawit tidak berhasil didalam proses budidaya. Sekarang yang menjadi tanggung jawab pemerintah adalah bagaimana menyiapkan kompetensi supaya petani punya kemampuan untuk membuat pupuk organik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar kita,” ujarnya.
Jamal berharap, jika petani sawit kembali ke tempat masing-masing, tanggung jawab utama yakni, memberikan edukasi pembuatan pupuk organik kepada petani sawit lain, yang belum berkesempatan untuk mebgikuti kegiatan tersebut.
Dirinya meminta agar jangan pernah ragu dalam berbagi ilmu, karena setiap ilmu yang dibagikan maka yang berbagi tidak akan pernah rugi, justru yang ada hanyala keberkahan. Sehingga dia meminta agar pelatihan tersebut dapat diikuti dengan seksama dan dicermati, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber ketika tidak paham terhadap materi yang disampaikan.
“Pastikan ketika meninggalkan tempat pelatihan ini sudah tidak ada lagi beban bahwa saya tidak bisa membuat pupuk organik, dan tidak ada lagi yang menyatakan bahwa saya belum paham. Oleh karena itu dalam proses ini ketika ada yang benar-benar belum dipahami dapat tanyakan kita nanti akan membuka ruang diskusi,” katanya.
Menurutnya, pembuatan dan aplikasi pupuk organik memiliki tujuan yang sangat penting karena untuk memperkenalkan kepada masyarakat bagaimana cara membuat pupur organik, dan memberikan pemahaman kepada para petani manfaat penggunaan organic, serta bagaimana mengaplikasikannya ke berbagai jenis tanaman.





Tinggalkan Balasan