1. Desa Kaduwa’a – 244 m saluran + 1 unit hand traktor

  2. Desa Dodolo – 179 m saluran + 1 unit hand traktor

  3. Desa Bumi Banyusari – 218 m saluran + 1 unit hand traktor

  4. Desa Alitupu – 265 m saluran + 1 unit hand traktor

  5. Desa Maholo – 900 m saluran + 1 unit hand traktor

  6. Desa Watutau – 300 m saluran + 1 unit hand traktor

Kalau dihitung-hitung, ini bukan cuma proyek pembangunan, tapi proyek penyelamatan masyarakat dari penyakit yang sudah terlalu lama jadi masalah laten di daerah ini.

Kedatangan tim disambut langsung oleh Bupati Poso, dr. Verna Gladies Ingkriwang. Kamis, (24/4)

Pemprov Sulteng Juga Gerak Cepat

Tak mau ketinggalan, Pemprov Sulteng lewat Cikasda juga menggelontorkan dana sebesar Rp4,3 miliar di tahun 2024 untuk membangun 1.450 meter saluran draenase di tiga desa endemik lainnya: Winowanga, Tamadue, dan Sedoa.

“Dari hasil kajian BRIDA Sulteng, ada 49 titik rawan di tiga desa tersebut yang harus segera diintervensi agar angka prevalensi schistosomiasis tetap di bawah 1%,” jelas Dr. Ruly Djanggola.

Sekilas Tentang Schistosomiasis

Biar makin paham, schistosomiasis alias demam keong disebabkan oleh parasit cacing skistosoma yang tinggal di siput air tawar. Parasit ini bisa masuk ke tubuh manusia hanya lewat kulit—ya, bahkan kalau cuma nyebur sebentar. Efeknya? Mulai dari ruam, demam, sampai nyeri otot dan kerusakan organ serius jika tidak diobati.

Maka, proyek draenase ini bukan cuma soal infrastruktur—ini soal kehidupan.