Karena itu, menurutnya, masyarakat tidak perlu ragu untuk bertanya ketika menghadapi persoalan administrasi kendaraan.

Baginya, memberikan penjelasan secara terbuka merupakan bagian dari tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.

Selain persoalan administrasi kendaraan, Yohanis juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak kendaraan bermotor.

Ia menilai pembayaran pajak kendaraan tidak semestinya dipandang hanya sebagai kewajiban administratif kepada pemerintah.

Lebih dari itu, kepatuhan membayar pajak merupakan bentuk kontribusi masyarakat yang manfaatnya kembali dirasakan melalui pembangunan, termasuk penyediaan dan peningkatan infrastruktur jalan.

“Pajak kendaraan yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya juga kembali untuk kepentingan masyarakat,” demikian semangat yang ia tekankan dalam memberikan pemahaman kepada warga.

Sikap terbuka dan pendekatan humanis yang ditunjukkan Ipda Yohanis Kristian Piay menjadi gambaran bahwa pelayanan publik tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal dan kaku.

Di balik meja pelayanan Samsat Sigi, ia berupaya membangun komunikasi yang sederhana: warga datang membawa persoalan, petugas hadir memberikan penjelasan.

Ruang kerjanya pun ia maknai bukan sebagai batas antara aparat dan masyarakat, melainkan sebagai pintu yang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan informasi.

Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pelayanan publik, sosok seperti Yohanis menunjukkan bahwa profesionalitas seorang aparat juga dapat dibangun melalui sikap sederhana—mau mendengar, mau menjelaskan, dan tidak menutup diri terhadap masyarakat.