
Mahasiswa Diminta Jadi Penggerak
Anwar menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mempercepat penanggulangan TB. Selain menjadi pusat pendidikan dan riset, kampus dapat menjadi ruang untuk memperluas edukasi sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda.
Mahasiswa dinilai dapat mengambil peran dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat, membantu menemukan kasus, mendampingi pasien, serta mengingatkan keluarga agar pengobatan TB dilakukan sampai tuntas.
“Kerja sama ini hanya bisa berjalan kalau kita bersama-sama dengan seluruh perguruan tinggi. Apa yang digagas melalui Berani Magaya hari ini adalah sebuah konsep yang sangat aktual dan harus kita lakukan,” tegasnya.
Bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, gerakan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi program 9 Berani sekaligus bentuk dukungan terhadap agenda nasional pemerintah.
“Kami ingin menyampaikan bahwa komitmen kita di Sulawesi Tengah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota, begitu besar untuk menyukseskan program Asta Cita Bapak Presiden di Sulawesi Tengah,” pungkas Anwar.
Puncak Dies Natalis ke-9 FKM Universitas Tadulako turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri RI Komjen Pol. (Purn.) Dr. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benyamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR., Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., jajaran dosen FKM Untad, serta ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tengah.
Dengan melibatkan kampus, tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat, target tiga tahun menuju Sulteng bebas TB kini diarahkan menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar target pemerintah.





Tinggalkan Balasan