Sigi, Sultengeskpres.com – Perseteruan yang terjadi antara mantan Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, dan Bupati Sigi saat ini, Mohamad Rizal Intjenae, terus menjadi perbincangan masyarakat. Di tengah polemik yang kini bergulir hingga ke ranah hukum, suara keprihatinan datang dari kalangan pedagang kecil di Pasar Biromaru.

Seorang ina-ina yang sehari-hari berjualan tomat dan rica mengaku menyayangkan hubungan kedua tokoh yang pernah berada dalam satu barisan kepemimpinan kini berubah menjadi perseteruan terbuka. Menurutnya, konflik tersebut justru berdampak pada suasana kehidupan masyarakat yang mulai terbelah dalam memberikan dukungan. Perseteruan itu bermula dari saling respons atas pernyataan publik, somasi, hingga laporan dugaan pencemaran nama baik ke kepolisian.

“Kami masyarakat kecil tidak mengerti urusan politik mereka. Yang kami tahu, dulu mereka bersama-sama membangun Sigi, sekarang malah saling berhadapan. Jujur kami sedih melihatnya,” ujar pedagang tersebut.

Menurut wanita paruh baya yang kerap disapa mama Pia, masyarakat lebih membutuhkan pemimpin yang menunjukkan kedewasaan dan mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin daripada mempertontonkan konflik yang berkepanjangan.

“Kalau pemimpin terus bertengkar, rakyat ikut terbawa. Di pasar saja sudah ada yang saling membela. Padahal kami semua sama-sama orang Sigi. Jangan sampai hanya karena urusan politik, hubungan masyarakat ikut rusak,” katanya.

Ia berharap kedua tokoh tersebut mengingat kembali amanah yang pernah diberikan masyarakat. Baik Irwan Lapatta sebagai mantan Bupati maupun Rizal Intjenae sebagai Bupati yang sedang menjabat dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan masyarakat.

“Bapak Irwan pernah memimpin Sigi selama bertahun-tahun, Pak Rizal sekarang yang melanjutkan. Harusnya keduanya menjadi contoh yang baik. Kalau ada masalah, selesaikan secara bijaksana. Jangan saling menyerang di depan publik,” tuturnya.

Sebagai pedagang yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, ia mengatakan rakyat lebih membutuhkan perhatian terhadap harga kebutuhan pokok, kesejahteraan petani, perbaikan jalan, dan peningkatan ekonomi dibandingkan menyaksikan konflik politik yang tidak kunjung selesai.

“Kami bangun pagi mencari nafkah, berharap pemimpin memikirkan rakyat. Jangan sampai energi habis untuk bertengkar. Sigi ini butuh persatuan supaya pembangunan tetap berjalan,” ungkapnya.

Ia pun mengajak seluruh pendukung kedua tokoh agar tidak mudah terprovokasi oleh dinamika politik yang berkembang.

“Siapa pun yang didukung, tetap kita semua bersaudara. Jangan karena perbedaan pilihan lalu saling bermusuhan. Kami berharap Pak Irwan dan Pak Rizal bisa memberi teladan yang baik agar masyarakat kembali rukun dan fokus membangun Kabupaten Sigi yang lebih maju,” pungkasnya.