Peserta juga diajak memetakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi usaha. Sejumlah ide yang muncul antara lain usaha kuliner, peternakan, bengkel, jasa cuci motor hingga kerajinan.

Selain pengelolaan modal, omzet, biaya dan laba, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan WhatsApp, Instagram, Facebook dan TikTok untuk memperluas pemasaran.

Karsa Institute dan Digiglo and Co menyiapkan pendampingan lanjutan dengan pendekatan berbeda sesuai kondisi peserta. Mereka yang telah memiliki usaha akan diperkuat dalam manajemen, keuangan dan pemasaran, sementara peserta yang baru memiliki gagasan akan dibantu melakukan validasi produk dan uji pasar.

KUBIK 2.0 dirancang sebagai program berkelanjutan melalui tahapan pemetaan, pendampingan, praktik, pemantauan dan evaluasi.

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi dari kemampuan penyandang disabilitas mengubah potensi menjadi peluang usaha dan pada akhirnya mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.