Palu, Sultengekspres.com — Kecepatan dalam menjalankan tugas tidak selalu berarti bertindak terburu-buru. Bagi jajaran Polsek Tawaeli, kecepatan justru harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap prosedur dan kelengkapan administrasi.

Hal itu terlihat ketika Polsek Tawaeli mendapat permintaan bantuan dari Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda Sulawesi Utara untuk mengamankan empat perempuan yang diduga berkaitan dengan perkara Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang tengah ditangani Polda Sulut.

Permintaan tersebut diterima Kanit Reskrim Polsek Tawaeli, Iptu Farid, sekitar pukul 10.00 WITA, Senin (31/8/2026). Keempat perempuan itu diketahui berada dalam perjalanan transit dan diperkirakan akan tiba melalui Pelabuhan Pantoloan, Palu menggunakan KM Dorolonda.

Permintaan bantuan tersebut terbilang tidak biasa karena datang langsung dari jajaran tingkat polda kepada unit reskrim di tingkat polsek. Namun, alih-alih langsung mengerahkan personel, Farid meneruskan informasi itu secara berjenjang kepada Kapolsek Tawaeli Iptu Afif.

Kapolsek kemudian mengambil langkah yang menempatkan aspek prosedural sebagai prioritas.

Iptu Afif memerintahkan jajarannya memastikan terlebih dahulu kelengkapan administrasi, termasuk surat perintah dan surat permintaan bantuan resmi dari Polda Sulawesi Utara, sebelum personel diturunkan ke lapangan.

Keputusan tersebut tetap dipertahankan meski waktu semakin sempit.

Dokumen dan kelengkapan administrasi dari Polda Sulut baru diterima sekitar pukul 23.00 WITA. Artinya, terdapat jeda hampir 13 jam sejak informasi awal diterima hingga seluruh persyaratan administrasi dinyatakan lengkap.

Di sisi lain, KM Dorolonda dijadwalkan sandar di Pelabuhan Pantoloan sekitar pukul 04.45 WITA, Selasa (1/9/2026).

Situasi tersebut membuat jajaran Polsek Tawaeli hanya memiliki waktu persiapan beberapa jam.

Dipimpin Langsung Kapolsek

Menjelang subuh, Iptu Afif turun langsung memimpin pelaksanaan tugas tersebut.

Sebanyak enam personel Reskrim Polsek Tawaeli yang tergabung dalam tim bersandi Macan Kumbang diterjunkan. Mereka diperkuat tiga pegawai perempuan dari KSOP Kelas II Palu, hasil koordinasi lintas sektor bersama Pelni dan Pelindo.

Keterlibatan petugas perempuan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas, mengingat seluruh sasaran yang akan diamankan merupakan perempuan. Pendekatan tersebut sekaligus mendukung proses komunikasi dan pengamanan yang lebih sesuai dengan situasi di lapangan.

Menurut Farid, ketika KM Dorolonda merapat di Pelabuhan Pantoloan, tim tidak menggunakan jalur penumpang sebagaimana biasanya.

Personel langsung menuju sisi dermaga yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan kapten dan kepala keamanan kapal.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan proses berjalan tertib sekaligus menghindari gangguan terhadap aktivitas penumpang lainnya.

Bagi jajaran Polsek Tawaeli, koordinasi tersebut bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga bagian dari menjaga tata hubungan dan etika antarlembaga.

Data Awal Tak Sepenuhnya Sesuai

Pelaksanaan di lapangan juga tidak berlangsung sesederhana informasi awal yang diterima.

Dari empat perempuan yang menjadi sasaran pengamanan, hanya dua yang dapat langsung dikenali berdasarkan foto yang dikirimkan Polda Sulawesi Utara.

Sementara dua lainnya menggunakan foto yang sudah tidak mutakhir. Kondisi itu membuat petugas harus melakukan pencocokan lebih lanjut dengan menggunakan keterangan tambahan sebelum memastikan identitas keempat perempuan tersebut.