Ia meminta setiap daerah memiliki sistem khusus untuk memantau ibu hamil berisiko tinggi. Koordinasi antara bidan, puskesmas, rumah sakit dan keluarga juga harus diperkuat sejak masa kehamilan.
Reny bahkan mendorong daerah yang berhasil menekan angka kematian ibu dan bayi untuk diberikan penghargaan sebagai bentuk motivasi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, rumah sakit diminta memastikan kesiapan tenaga medis, khususnya dokter spesialis obstetri dan ginekologi, agar penanganan kondisi darurat dapat dilakukan tanpa keterlambatan.
“Dengan kerja sama yang solid, saya yakin angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” tegasnya.
Evaluasi AMPSR tersebut diikuti jajaran Dinas Kesehatan dari 13 kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah dan menjadi momentum untuk memperkuat strategi pencegahan kematian ibu serta bayi di daerah.





Tinggalkan Balasan