Rinciannya, Rp7,62 miliar untuk infrastruktur pelabuhan, Rp15,46 miliar untuk sarana produksi tangkap, Rp5,16 miliar untuk sarana budidaya dan pengolahan hasil, Rp1,85 miliar untuk pengelolaan ruang laut, serta Rp3,64 miliar untuk pengawasan sumber daya kelautan.

Investasi tersebut turut mendorong peningkatan produksi perikanan tangkap. Produksi meningkat dari 271.865,95 ton pada 2024 menjadi 328.393,08 ton pada 2025, atau tumbuh sekitar 20,8 persen. Kabupaten Donggala tercatat sebagai kontributor terbesar.

Sementara produksi perikanan budidaya pada 2025 sementara mencapai 330.058,72 ton, dengan Banggai Kepulauan menjadi salah satu daerah penyumbang utama.

Dari sisi kesejahteraan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat 102,24 pada Januari 2026. Angka tersebut menunjukkan kondisi usaha nelayan masih berada pada posisi positif.

Tak hanya produksi, kepatuhan pelaku usaha terhadap ketentuan pengelolaan sektor kelautan juga meningkat signifikan, dari 82,12 persen menjadi 94,40 persen dalam kurun setahun.

Capaian sektor perumahan dan kelautan-perikanan tersebut menunjukkan bahwa Program BERANI tidak hanya berhenti pada kebijakan dan alokasi anggaran, tetapi mulai diterjemahkan dalam bentuk pembangunan fisik, peningkatan produksi, serta penguatan kesejahteraan masyarakat.

Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, pengembang, hingga masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong program prioritas Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny Lamadjido agar manfaat pembangunan semakin dirasakan masyarakat Sulawesi Tengah.